Senja masih menunggu untuk dilihat. Aku duduk di lautan pasir sambil ku rapatkan tubuh pada kekasihku. Dingin, sangat dingin. Ingatanku berbalik, menerobos waktu yang lama tak terjamah.
“ Suatu saat nanti, akan ku bawa kau ke pantai itu. Di sana indah sekali, kau pasti menyukainya.”
“Ya, aku harap kau pegang kata-katamu itu,”
“Tentu, aku janji,”
“Sayang, kau lihat langit itu? Cantik bukan? Sebentar lagi langit gelap. Bulan dan bintang akan tampak,” kekasih di sampingku membuat siluet masa laluku membuyar.
“Dan kau sangat menyukai bintang. Iya kan? Hmmh, begitu juga aku. Tapi sejujurnya, aku lebih menyukai bulan. Manis dan romantis, seperti kata-kata yang sering kau ucapkan padaku” ku katakan itu, sembari mengambil tangannya untuk ku pegang. Erat. Hangat.
Aku merenung lagi, dulu bukan kau yang berjanji akan mengajakku ke pantai ini. Tapi dia, dia yang ku cintai sekian lama. Yang kini telah hilang bersama repihan debu dan menyusul ke langit sana. Menjelma menjadi bulan dan selalu membacakan dongeng cinta antara putri dan pangeran.
Masa lalu kembali datang dan kembali menghilang.
Aku berdiri, menatapi laut yang tak bertepi. Menatapi langit yang akrhirnya menjadi garis. Ku mainkan kaki, membuat pasir membentuk sebuah nama. Arin.
Kekasihku mengikutinya. Dengan telunjuknya yang mahir memainkan gitar ia tuliskan sebuah kata di bawah namaku. Jelek.
Aku memandangnya. Sinar mata kekanakan itu membuatku rindu akannya. Walaupun saat ini ia tenagh berada di smpingku.
Senyum nakalnya yang mengembang membuatku sadar saat ini ia sedang menggodaku.
Ku balas dengan senyum nakal pula. Ku jitak kepalanya. Ia balas dengan ekspresi seakan-akan marah. Perlahan telapak tangannya menyentuh pipiku. Bergerak, ia usapkan telapaknya dari kening hingga daguku. Aku memanja. Ah memang benar apa kata orang, saat-saat seperti in membuat aku merasakan dunia hanya milik kita berdua. Hahahaha…
Dia yang menjelma bulan mulai datang. Ia yakinkan padaku dengan pancarannya bahwa kekasihku saat ini adalah pangeranku. Entahlah, aku tak tahu siapa pangeranku. Dia yang menjelma bulan atau kekasihku yang mengagumi bintang. Aku mencintai keduanya. Dia yang menjelma bulan adalah masa lalu yang selalu ku ingat. Dan kekasihku yang mengagumi bintang adalah yang ku punya saat ini. Yang ku kasihi dengan seluruh ketulusanku.
Bimbang…
Ku tatap kembali wajah kekasihku yang mengagumi bintang.
Aku tersenyum.
Senyum kami berdua mengantarkan senja pada batas waktu terakhir.
Malam. Gelap. Hanya ada satu bulan yang ditemani ribuan bintang.
nice,.. makasih ya,... ntar nyusul tulisanku,... comment ketempatku ya,...
BalasHapus