az-zukhruf ayat 67.
belum tentu orang yang berkasih-kasihan di dunia, akan saling mengasihi pula di akhirat.
dan aku menangis di depannya, meminta dengan pasrah agar ia berhenti menjadi kekasihku!
Dia bilang: sudahlah, buat apa kita putus tapi kita tetap saling menyayangi?
benar juga yang ia katakan.
aku kendalikan tangiskku. Tapi aku sungguh takut jika aku tak bertemu lagi dengannya, di dunia yang entah ada atau tak, aku pun tak tau pasti.
terlalu dalam cintaku saat itu. hanya dia! ya, hanya dia!
aku mencintainya. terlalu mencintainya bahkan..
Aku Adalah Aku
HANYA AKU TAK ADA APA DAN SIAPA
Senin, 01 Juni 2009
Minggu, 31 Mei 2009
Senja yang Hilang
Kalau saat itu bulan tak menghilang, pasti malam akan selalu bertengger sekalipun badai mencoba untuk memporakporandakan.
Dan Negeri Kahani lambat laun membelokkan senja pada malam.
Tapi pagi merebut kasih yang tak bersulur.
Aku menunggu dalam pias.
Dan yang ku dapati hanya kebisuan menjelang ajal penantian.
Aku bosan,
Malam, kenapa kau tak segera menjemput senjamu?
Aku menunggu.
Dan kau hanya pasrah melihat senjamu menghilang.
Gelap kembali menjadi terang.
Meniadakan rona merah dalam wajahku yang berharap..
Dan Negeri Kahani lambat laun membelokkan senja pada malam.
Tapi pagi merebut kasih yang tak bersulur.
Aku menunggu dalam pias.
Dan yang ku dapati hanya kebisuan menjelang ajal penantian.
Aku bosan,
Malam, kenapa kau tak segera menjemput senjamu?
Aku menunggu.
Dan kau hanya pasrah melihat senjamu menghilang.
Gelap kembali menjadi terang.
Meniadakan rona merah dalam wajahku yang berharap..
Jumat, 29 Mei 2009
bukan hanya kata
mulut adalah istana kebohongan.
dengan mulut kita mengungkapkan tanpa tahu tujuan bukan sasaran.
kasih ini suci, walau terlintas dalam lorong gelap pengungkap.
namun, ijinkanlah lerung meminjam lorong untuk mengisyaratkan cinta
dengan mulut kita mengungkapkan tanpa tahu tujuan bukan sasaran.
kasih ini suci, walau terlintas dalam lorong gelap pengungkap.
namun, ijinkanlah lerung meminjam lorong untuk mengisyaratkan cinta
awal juni
bermalamlah di sini periku
tak kah lorong hidupku berada pada ramalanmu?
garis tangan yang satukan pada satu janji bersama.
ku jadikan kau...
aku tak ingin bersekutu dengan lelaki keduamu.
dia cukup meludahiku empat kali, berkacak pinggang menantang aurora siang-siang..
setia di ambang pintu, menanti antrian maut di awal bulan juni, di pungkas musim semi..
semua kau toreh sebagai sabda neraka di ujung kerinduan yang berkarat.
aku merindu hadirmu malam ini.
tak kah lorong hidupku berada pada ramalanmu?
garis tangan yang satukan pada satu janji bersama.
ku jadikan kau...
aku tak ingin bersekutu dengan lelaki keduamu.
dia cukup meludahiku empat kali, berkacak pinggang menantang aurora siang-siang..
setia di ambang pintu, menanti antrian maut di awal bulan juni, di pungkas musim semi..
semua kau toreh sebagai sabda neraka di ujung kerinduan yang berkarat.
aku merindu hadirmu malam ini.
Rabu, 27 Mei 2009
Aku dan Bapakku
Sore itu ku lihat kau diam, matamu memandang layar kaca, seperti biasa.
Duduk pada kursi hijau yang telah bertahun-tahun menempati pojok rumah.
Duduk pada kursi hijau yang telah bertahun-tahun menempati pojok rumah.
Bapak, masih adakah rasa sayangmu untuk ku?
Untuk ibu barangkali?
Atau untuk anakmu selain aku?
Bapak, aku rindu engkau.
Aku rindu saat masa bocah masih aku alami.
Sungguh, aku rindu, sedalam-dalamnya rindu.
Aku sadar, kita tak seromantis pasangan bapak dan anak lain.
Aku mengerti, kita jarang bertegur sapa.
Aku paham betul, apa yang terjadi di antara kita.
Terlalu banyak dinding yang memisahkan kita.
Terlalu rumit sekat yang mengkotak-kotakan kita.
Bapak, aku sungguh merindu engkau yang dulu.
Walau rindu itu tak akan pernah tersampaikan.
Tolong, berbagilah..
Aku ingin kau melepas semua pedihmu.
Berilah aku pedihanmu itu.
Beri aku, agar tak hanya kau yang merasa pedih itu.
Untuk ibu barangkali?
Atau untuk anakmu selain aku?
Bapak, aku rindu engkau.
Aku rindu saat masa bocah masih aku alami.
Sungguh, aku rindu, sedalam-dalamnya rindu.
Aku sadar, kita tak seromantis pasangan bapak dan anak lain.
Aku mengerti, kita jarang bertegur sapa.
Aku paham betul, apa yang terjadi di antara kita.
Terlalu banyak dinding yang memisahkan kita.
Terlalu rumit sekat yang mengkotak-kotakan kita.
Bapak, aku sungguh merindu engkau yang dulu.
Walau rindu itu tak akan pernah tersampaikan.
Tolong, berbagilah..
Aku ingin kau melepas semua pedihmu.
Berilah aku pedihanmu itu.
Beri aku, agar tak hanya kau yang merasa pedih itu.
Bapak menatapku dari balik kacamatanya.
Mungkin ia tak sadar ada kaca-kaca bening dalam mataku.
Mungkin ia tak sadar ada kaca-kaca bening dalam mataku.
Bapak, aku sungguh rindu..
Dan aku mencintaimu bapak.. Teramat sangat..
Dan aku mencintaimu bapak.. Teramat sangat..
Rabu, 20 Mei 2009
mencoba kembali untuk membuat semua menjadi mudah.
apakah ada yang salah dengan sikapku itu?
ketika pikiran ku rasa butuh mendapatkan istirahat dari pikiran yang melelahkan..
hmmh, kata seseorang : jangan menganggap semua itu mudah!
ya, tapi hidup ini aku rasa sudah cukup sulit. untuk apa menambah pikiran yang sulit?
jadi rumit..
ayolah kawan, buat santai hidupmu itu!
apakah ada yang salah dengan sikapku itu?
ketika pikiran ku rasa butuh mendapatkan istirahat dari pikiran yang melelahkan..
hmmh, kata seseorang : jangan menganggap semua itu mudah!
ya, tapi hidup ini aku rasa sudah cukup sulit. untuk apa menambah pikiran yang sulit?
jadi rumit..
ayolah kawan, buat santai hidupmu itu!
Jumat, 01 Mei 2009
Entah
Mencintaimu adalah kerumitan. Menuntut untuk menjadi seorang aku yang bukan aku.
Mencintaimu adalah bahagia yang ditetaskan antara derita. Mencoba menjadi dewasa ketika lari sepertinya menjadi solusi terbaik untuk menghadapi masalah.
Mencintaimu adalah pedih yang diperoleh ketika pengkhianatan muncul untuk mencoretkan kebencian pada masing-masing kita.
Mencintaimu adalah pesakitan yang selalu pasrah tak tahu hendak apa. Tak bisa apa dan penghambaan pada waktu.
Mencintaimu adalah takdirku.. Sesuatu yang sampai saat ini belum aku mengerti.
Mencintaimu adalah aku.
Mencintaimu adalah bahagia yang ditetaskan antara derita. Mencoba menjadi dewasa ketika lari sepertinya menjadi solusi terbaik untuk menghadapi masalah.
Mencintaimu adalah pedih yang diperoleh ketika pengkhianatan muncul untuk mencoretkan kebencian pada masing-masing kita.
Mencintaimu adalah pesakitan yang selalu pasrah tak tahu hendak apa. Tak bisa apa dan penghambaan pada waktu.
Mencintaimu adalah takdirku.. Sesuatu yang sampai saat ini belum aku mengerti.
Mencintaimu adalah aku.
Langganan:
Postingan (Atom)