Sore itu ku lihat kau diam, matamu memandang layar kaca, seperti biasa.
Duduk pada kursi hijau yang telah bertahun-tahun menempati pojok rumah.
Duduk pada kursi hijau yang telah bertahun-tahun menempati pojok rumah.
Bapak, masih adakah rasa sayangmu untuk ku?
Untuk ibu barangkali?
Atau untuk anakmu selain aku?
Bapak, aku rindu engkau.
Aku rindu saat masa bocah masih aku alami.
Sungguh, aku rindu, sedalam-dalamnya rindu.
Aku sadar, kita tak seromantis pasangan bapak dan anak lain.
Aku mengerti, kita jarang bertegur sapa.
Aku paham betul, apa yang terjadi di antara kita.
Terlalu banyak dinding yang memisahkan kita.
Terlalu rumit sekat yang mengkotak-kotakan kita.
Bapak, aku sungguh merindu engkau yang dulu.
Walau rindu itu tak akan pernah tersampaikan.
Tolong, berbagilah..
Aku ingin kau melepas semua pedihmu.
Berilah aku pedihanmu itu.
Beri aku, agar tak hanya kau yang merasa pedih itu.
Untuk ibu barangkali?
Atau untuk anakmu selain aku?
Bapak, aku rindu engkau.
Aku rindu saat masa bocah masih aku alami.
Sungguh, aku rindu, sedalam-dalamnya rindu.
Aku sadar, kita tak seromantis pasangan bapak dan anak lain.
Aku mengerti, kita jarang bertegur sapa.
Aku paham betul, apa yang terjadi di antara kita.
Terlalu banyak dinding yang memisahkan kita.
Terlalu rumit sekat yang mengkotak-kotakan kita.
Bapak, aku sungguh merindu engkau yang dulu.
Walau rindu itu tak akan pernah tersampaikan.
Tolong, berbagilah..
Aku ingin kau melepas semua pedihmu.
Berilah aku pedihanmu itu.
Beri aku, agar tak hanya kau yang merasa pedih itu.
Bapak menatapku dari balik kacamatanya.
Mungkin ia tak sadar ada kaca-kaca bening dalam mataku.
Mungkin ia tak sadar ada kaca-kaca bening dalam mataku.
Bapak, aku sungguh rindu..
Dan aku mencintaimu bapak.. Teramat sangat..
Dan aku mencintaimu bapak.. Teramat sangat..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar