HANYA AKU TAK ADA APA DAN SIAPA

Kamis, 23 April 2009

Lelaki yang Menunggu dan Perempuan yang Sendiri

Malam ini, bangsat!

Aku masih berusaha untuk tersenyum.

Menyusun repihan debu yang bercampur dengan asaku.

Jogjakarta , 08 Januari 2007

Lelaki yang menunggu kejelasan,

Ruang dinding putih ini menjadi saksi atas berakhirnya kisah antara aku dan kau. Saat ini jam 2 pagi dan kau masih saja bungkam atas tindakanmu akhir-akhir ini. Entah apa yang harus aku perbuat. Aku benci kau diam seperti itu. Aku ingin katamu. Aku ingin itu walau ku tahu itu pasti akan menyakitkan.

Biar, aku masih menunggu kata darimu. Menunggu penjelasan yang sejelas-jelasnya.

…………………………………

Lelaki yang menunggu kejelasan,

Kabar yang kau bawa hari ini sungguh tak masuk akal. Aku tak tahu harus berkata apa. Kau tiba-tiba memintaku untuk melupakanmu. Ada apa? Setelah kebersamaan yang kita susun sekian lama. Sangat lama.

“ Maaf, aku hanya ingin sendiri. Tanpa ada kau di sisiku. Sungguh, hanya ingin sendiri. Bukan karena aku tak cinta, aku hanya ingin sendiri.”

“Benarkah?? Untuk kau ketahui saja, aku tak menutup mata terhadap apa yang aku lihat. Aku tak tuli atas apa yang aku dengarkan setiap harinya. Bagaimana kabar lelakimu di sana? Lelaki yang bisa merebut hatimu lagi. Dan membuatmu berfikir seribu kali untuk hidup bersamaku, sesuai dengan keinginan kita pertama mengikrar janji.”

“Dia? Siapa? Aku pergi darimu bukan untuk dia atau untuk siapa. Tapi untukku. Karena aku ingin sendiri. Salahkah aku yang tiba-tiba menjadi begitu dingin terhadap hidup?”

“Tidak. Kau tak salah atas sifat dinginmu yang tiba-tiba itu. Tapi kau salah menempatkan hatimu. Seharusnya kau tak perlu menerimaku waktu itu.”

“Maaf, aku egois. Maaf juga jika kau menyesal telah menjalin rasa denganku”

Aku pergi..

…………………………………….

Lelaki yang menunggu kejelasan,

Aku tak pergi,

Aku masih disini menjaga hatiku untuk seseorang yang entah siapa.

Menunggu yang entah siapa.

Perempuan itu kah?

Yang telah pergi karena ingin sendiri?

Aku tak pergi, aku disini jika kau ingin kembali.

………………………………

Perempuan yang mencukupkan diri atas kesendirian,

Maaf kekasih, aku tak ingin hidup denganmu. Entahlah, perasaan bersalah selalu ada jika aku melihatmu. Seakan aku mengkhianati janjiku pada diri sendiri. Kasih, aku teringat seorang dulu yang selalu aku tempatkan pada tingkat teragung di hatiku. Dulu yang kini entah. Yang dulu pun aku tak sempat mengatakan pada nya, bahwa aku berhasrat akannya.

Hmmh, saat ini aku manusia bebas. Sebebas-bebasnya manusia. Tak ada tanggung jawab yang harus aku ambil terhadap orang lain. Kini, aku sendiri.

Aku tahu, jiwaku tak sendiri. Aku bersama dia yang “dulu yang kini entah”. Bahkan saat bersamamu, jiwaku ini terbagi untukmu dan untuknya,untuk “dulu yang kini entah”. Dan kini entah akan aku bawa sampai kapan perasaan ini. “Dulu yang kini entah”, pasti kau tak tahu perasaanku akanmu? Aku memang selalu menyimpannya. Tak berani aku mengungkapkannya. Ya, aku memang terkungkung adat yang melarangku mencintaimu. Berterus terang sama artinya harakiri. Bunuh diri.

Dan aku putuskan untuk sendiri. Entah sampai kapan. Sampai aku mati mungkin?

………………………

Entah yang tiada,

Hujan Januari mengantarkan kedua sosok yang saling berkasih-kasihan pada senja yang tak lagi berujung. Memotong siang dan menjadikannya pekat yang tak berwarna. Mengantar matahari yang telah siaga sejak jam empat pagi tadi.

Perasaan hangat muncul mencercap di udara. Menukik, melebar dan terbang bersama oksigen yang tak akan pernah habis. Menjadi siklus yang akan berganti dingin. Nikmati kehangatan saat ini juga atau kau akan kehilangan selamanya. Kesempatan tak pernah datang untuk kedua kalinya.

Rasakan hangat itu dan mulailah belajar untuk menerima. Ya, belajar. Karena sesuatu di dunia tak lepas dari pembelajaran. Semua adalah proses. Penerimaan, pengkhianatan, ikhlas, kematian, dan kehilangan adalah proses yang dinikmati. Proses untuk belajar pada sesuatu yang mungkin tak kita peroleh selama belasan tahun bersekolah.

Ini sekolah hidup. Di mana kehidupan yang kita dapatkan adalah proses belajar untuk menerima hidup yang sesungguhnya kita tak punya kuasa untuk menjalani tanpa campur tangan sosok yang tak bisa kita lihat. Campur tangan sosok yang kita amini keberadaannya yang entah ada atau tak.

………………………………...

Perempuan yang mencukupkan diri atas kesendirian,

Aku, tak pernah tahu atas apa yang akan terjadi.

Setiap orang begitu. Pasti.

Aku bertahan atas apa yang aku sendiri tak yakini.

Tapi telah aku tetapkan bahwa,

Aku perempuan yang menempatkan hatinya pada cawan seorang perawan.

Aku Larasati, perempuan yang mengagumi perempuan-ku itu.

Perempuan-ku, dulu yang kini entah.

Perempuan yang mencukupkan diri atas kesendirian. Perempuan yang menempatkan hatinya pada cawan seorang perawan.

2 komentar:

  1. mungkin lelaki itu tidak sedang menunggu, bisa jadi ia sedang berlari, mengejar perempuan itu, karena setahuku, lelaki jarang sekali menunggu, ia selalu berlari secepat tetes hujan yang dalam sekejap sudah membasahi rumput-rumput.

    BalasHapus
  2. deeykecil aku pengen ngasih komentar tapi gak tahu mo bilang apa...? nih aku copy dari blogku aja yac....:
    BERCAKAP-CAKAP DENGAN CINTA

    ( Kado pernikahan buat seseorang yang tak sempat sampai…)

    Berjalan sendirian berkelana di rimba makna. Letihku gigilkan semua pori-pori. Akhirnya tiba juga aku di lereng imajinasi. Hamparan danau jiwa terlihat bening, tenang tanpa riak. Kuceburkan diriku untuk menghilangkan semua penat. Menyelamlah aku cukup dalam ke dasar. Di lubuk jiwa inilah akhirnya ku bisa temui sahabatku. Dia bernama “Cinta” dan aku biasa memanggil dia Cin. Tak setiap saat aku bisa menemuinya. Dia datang dan pergi begitu saja tanpa pamit dan permisi.

    “Cin! Bolehkan bertanya banyak tentang dirimu? Aku ingin lebih mengenalmu!”

    Cinta hanya mengangguk sambil membetulkan posisi duduk disampingku. Walau tertutupi hijab atau cadar hingga aku hanya bisa melihat sorot matanya yang teduh,tapi aku bisa menduga tentu dia sedang tersenyum manis dengan takik lesung pipitnya!

    “Cin! Bolehkan aku tahu berapa umurmu?”

    “Usiaku tak terhitung lagi sebab aku lahir bersama lahirnya alam semesta ini. Ketika bumi ini keluar dari rahim aku adalah ari-arinya. Asal kau tahu, aku ini lebih tua dari Adam! Apa yang kau lihat semua di dunia ini adalah hasil perananku.”

    “Cin! Bolehkan aku tahu siapa yang memilikimu?”

    “ Aku menjadi milik Sang Maha Pencipta. Dia menciptaku untuk melembutkan semua kekerasan kehidupan bumi. Aku adalah saos penyedap untuk semua rasa.”

    “Cin! Kenapa kadang ada orang yang mengaku memilikimu dan kadang menyerahkan pada orang lain?”

    “ Itu sebagai bukti dari bodohnya kaummu! Padahal aku tak bisa di miliki atau bahkan di serah terimakan. Tangan-tangan kalian tak cukup menampung besarnya diriku. Justru akulah sebenarnya yang menggerakan dan mengarahkan kalian jika aku mengganggap kalian berguna bagiku.”

    “Cin! Apa sesungguhnya yang jadi kebutuhanmu?”

    “Kamu tak perlu tahu! Apa yang aku lakukan adalah untuk memenuhi kebutuhanku. Aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri tanpa perlu bantuan siapapun. Aku adalah kemandirian sejati.”

    “Cin! Sungguh aku ingin tahu itu agar kamu mau tinggal bersamaku!”

    “Aku adalah kejujuran, aku tak bisa kalian suap! Aku akan tinggal bersama salah satu dari kalian itu atas kemauanku sendiri. Kalian tak bisa merayuku apalagi memaksaku. Aku akan datang atas pertimbanganku sendiri.”

    “ Dan untuk dirimu!” kulihat mata Cinta nyalang menatapku,” Kau sulit mengikatku, kamu terlalu egois dan tak bisa berbagi. Kamu terlalu sibuk dengan mimpi-mimpi yang tak juga terwujud, tapi kau tersesatkan oleh yakinnya pikiranmu sendiri.”

    Ingin rasanya membantahnya dengan berucap “ Kesendirianku adalah pilihan dan setiap manusia bebas menentukan pilihan hidupnya.” Tapi gumpalan-gumpalan umpatan itu tetap tertahan di kerongkongan. Aku tak ingin dia marah dan berlalu pergi, padahal masih banyak pertayaan yang akan aku ajukan.

    “Cin! Bolehkah aku tahu ditempat seperti apa kau mau tinggal dan singgah?”

    “Aku bisa tinggal dimanapun di seluruh sudut dunia. Tapi Aku hanya mau singgah di tempat-tempat teduh yang penuh dengan kesejukan dan kedamaian, aku akan berlalu pergi pada tanah-tanah gersang. Karena aku hanya akan luruh pada kelembutan.”

    “Cin! Bolehkah aku melihat wajah di balik cadarmu?”

    “ Jangan! Matamu akan buta karena tersilaukan oleh pesona sinar yang memancar dari setiap pori-pori wajahku.”

    Aku begidik, dan tak mencoba memaksa !

    “Cin! Ijinkan aku menyentuhmu sebentar saja!”

    “ Sudahkah kau punya kaos tangan khusus? Jika belum, jangan! Tubuhmu akan tersengat listrik yang bisa menghancurkan seluruh organ-organ tubuhmu. Tubuhmu baru aman tak apa-apa jika yang menyentuh adalah aku, tapi jika kau yang menyentuhku tanpa minta ijin dulu, tubuhmu akan terbakar dan jiwamu bisa hancur.”

    Aku semakin begidik dan terbayanglah barisan korban cinta.

    “Cin! Aku jadi ngeri. Benarkah sesungguhnya kamu ini penghancur?”

    Mata Cinta meredup, mungkin dia tak suka dengan pertayaan ini. Tak juga keluar jawaban darinya hingga justru anganku melayang jauh pada kisah-kisah masa lalu. Bagaimana negara besar Ngalengka Diraja, harus hancur-lebur gara-gara cinta buta sang Rahwana pada Shinta. Kerajaan itu luluh-lantak oleh kekuatan ketulusan cinta Rama pada sang istri setianya, Shinta.

    Kemudia kerajaan besar Majapahit juga harus runtuh oleh sebuah sayatan cinta. Walau seribu wanita cantik bisa di dapatkan oleh sang raja Hayam wuruk tapi cinta sejati sang baginda hanya pada Dyah Pitaloka. Maka ketika sang putri pujaan mati bunuh diri karena blunder besar sang maha patih Gajah mada, sang raja jatuh sakit dan meninggal. Kepahlawanan sang mahapatih dalam membesarkan kerajaan seperti tak dianggap lagi hanya karena kesalahan dalam memaknai Cinta sang raja. Dia harus terusir dari istana dan kerajaanpun mengalami kemunduran karena kehilangan soko guru.

    “ Itulah sialnya aku, selalu disalahkan,” Akhirnya aku mendengar suara lirih jawaban darinya setelah cukup lama hening.“Padahal merekalah sesungguhnya yang salah karena tak bisa mengendalikan diri. Mereka tak bisa memaknai aku dengan sungguh-sungguh. Bahkan dulu Adam pun menyalahkanku ketika terusir dari surga, karena terlalu sayangnya pada sang istri, Hawa, dia bisa terbujuk rayu syetan hingga berani melanggar larangan Tuhan, hingga terusir ke bumi. Sudah takdirku menjadi kambing hitam.”

    Cinta seperti terpukul dengan pertayaanku tadi dan beranjak berdiri.

    “Cin! Kau mau kemana?” kataku ketika kulihat dia akan pergi.

    “ Maafkan aku! Ada tugas yang harus kuselesaikan hari ini. Aku harus pergi! Ada sepasang anak manusia yang memesan jembatan padaku, mereka menikah hari ini.”

    “Jembatan apa Cin?” tanyaku penuh tanda tanya besar.

    “ Jembatan yang berfungsi untuk menghubungkan dua jiwa. Agar tak lagi ada batas diantara mereka hingga bisa hilir mudik saling mengisi kekurangan masing-masing. Jembatan itu berupa kain panjang menggantung yang ujung-ujungnya aku kaitkan pada dua tonggak cita-cita yang telah tertancap diatas kepala mereka. Kain itu aku tenun sendiri dengan mengambil benang dari serat-serat hati mereka.”

    Aku tertegun! Ah ternyata sesungguhnya tugas Cinta itu mulia!

    “Cin! Sebelum kamu pergi aku minta satu permintaan terakhir! Tolong buatkan jembatan terbaik dan terkokoh yang bisa kamu buat. Aku ingin jembatan itu tidak akan pernah runtuh sampai ujung usia mereka. Sampai ketika tangan-tangan Izrail menggandeng mereka, jembatan itu tetap tersambung.”

    Cinta menatapku tajam mengangguk dan berlalu pergi meninggalkanku. Aku pandang kepergian Cinta dengan mata sayu. Dia datang dan pergi begitu saja tanpa aku bisa mengundang dan mencegah. Dia tak bisa diatur. Andai suatu saat dia datang itu bukan karena aku panggil tapi karena inisiatifnya sendiri. Aku terdiam dalam kyusuk doa, biarlah sementara dia pergi, pasti suatu saat aku bertemu lagi.

    BalasHapus